Archive for the ‘Cerpen’ Category

Hujan Api

Sunday, June 3rd, 2007

Mayat Manusia bergelimpangan, darah mengalir dengan derasnya dari
mayat-mayat yang terbujur kaku diatas rerumputan kering seakan sudah
lama tidak pernah terkena siraman air.

Orang-orang yang masih hidup lari pontang-panting menyelamatkan diri,
dengan teriakan minta tolong dari mulutnya yang sudah kering bagaikan
kertas hitam yang sebentar lagi mungkin akan terbakar.

Susasana semakin mencekam, ketika yang terdengar hanyalah dentuman
gemuruh bagaikan suara halilintar yang siap menggosongkan segala
sesuatu yang disambarnya.

Tidak ada lagi suara manusia lemah meminta tolong, sebab mereka telah
berlari dan bersembunyi didalam goa gelap, dan tidak ada satupun
diantara mereka berani bersuara, karena beberapa diantaranya yang
memberanikan diri untuk bersuara satu, demi satu hilang entah kemana,
dan sampai sekarang tidak pernah datang kembali.

Sayup-sayup terdengar suara para Kuli Tinta, yang mencoba menyuarakan
berita peristiwa tersebut, dan untuk disiarkan keseluruh dunia.

Suara kuli tinta tersebut juga didengar oleh manusia lemah yang saat
itu masih bersembunyi didalam goa. Mereka saling berbisik antara satu
dengan yang lain dan dan berkata "Apakah para Kuli Tinta telah
memberikan informasi tentang peristiwa yang sebenarnya, juga tentang
keberadaan mereka saat ini?, dan apakah mungkin dengan bantuan para
kuli tinta, maka suatu saat mereka bisa kembali keluar dari tempat
persembunyian, untuk kembali melanjutkan hidup yang bebas seperti yang
selama ini mereka impikan?"

Tidak satupun diantara mereka yang mampu menjawab, hanya hati nurani
dan waktu yang mampu menjawabnya, namun yang pasti manusia lemah, satu
demi satu telah mati oleh sengatan hujan api, yang sakitnya tidak
pernah dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Dan sakit yang semakin menjadi-jadi, ketika manusia lemah tahu, bahwa
sumber Hujan Api yang membunuh saudara-saudara mereka, adalah Hujan Api
yang telah mereka beli, yang awalnya bertujuan untuk melindungi mereka.

Kisah Anak Kost bagian I

Friday, May 18th, 2007

Beberapa pemuda dengan status sebagai mahasiswa
di kota
Harapan dan memilih tinggal satu kost, dimana para pemuda
tersebut berasal dari desa yang sama, dan notebene masih mempunyai status
kekerabatan yang sungguh masih sangat dekat sekali

 

Karena rumah kost yang mereka
tempati dalam kondisi yang luas, sehingga memungkinkan banyak orang diluar dari
kelompok pemuda tadi yang juga turut tinggal disana.

 

Ketika salah seorang anak kost
baru yang bernama  Aldo menempati salah
satu kamar di kostan tersebut, dengan ramahnya Aldo juga mencoba mulai
melakukan pendekatan dan bergaul dengan anak kost yang lama.

 

Beberapa bulan berlalu Aldo  yang kebetulan merasa sangat cocok berteman
baik dengan anak kost lama yang bernama Farid. Karena sudah begitu akrab dan
kompak, mereka berdua seakan tiada bisa dipisah, dan kelihatan juga pada setiap
malam mereka selalu menyempatkan waktu untuk berdiskusi bersama meskipun hanya
sebatas diskusi masalah pendidikan, dan tak jarang juga berdiskusi mengenai
bagaimana cara mendapatkan gadis pujaan, karena mereka berdua juga kebetulan
adalah jombloan sejati.

 

Farid dan beberapa anak kost yang
lain yang kebetulan kebanyakan adalah anak satu kampungnya kelihatan semakin
menjauh dari mereka, dikarenakan kekompakan yang begitu erat antara dia dengan
Aldo, namun meskipun demikian adanya namun sesekali, masih terlihat melakukan
intraksi tegur sapa yang cenderung diartikan hanya sebatas ‘say hello’ saja.

 

Pada suatu malam dimana kegiatan
diskusi yang senantiasa dilakukan telah tiba, dan saat itu topik yang mereka
bicarakan adalah mengenai karakter dan sifat masing-masing. Pada saat diskusi
tersebut, bergabung juga salah seorang anak kost yang satu kampung dengan
Farid. Tanto begitulah anak-anak satu kost memanggil nama seorang pemuda yang
berbadan tegak, dan berkulit hitam pekat itu.

 

Pada diskusi ini yang pertama
sekali di kritisi karakter dan sifatnya adalah si Aldo oleh Farid dan Tanto,
dimana kalau menurut mereka berdua, bahwa sifat Aldo cenderung stress dan tidak
punya gairah untuk hidup. Kebanyakan ilusi dan memikirkan hal-hal yang terlalu
tinggi mengakibatkan Aldo kelihatan seperti orang yang putus semangat,
begitulah kira-kira tanggapan Farid dan Tanto terhadap Aldo.

 

Setelah sifat dan karakter Farid
yang menjadi bahan kritisan, maka Aldo berpendapat bahwa Farid cenderung tidak
mempunyai aura yang baik, dan Aldo dengan lantak menyebut sifat Fafrid yang
sehari-hari terlihat seperti sifat para pembantu. Meskipun tanggapan Tanto
tidak begitu membenarkan tanggapan Aldo, namun karena Aldo adalah kawan
dekatnya Farid, membuat Farid lebih mempercayai pernyataan Aldo dari pada
pernyataan Tanto.

 

Dan untuk Tanto, dinyatakan
sebagai seseorang yang akan bakal menjadi pembesar ataupun seorang pengusaha
yang sukses, ini dilihat dari kebiasaan-kebiasaanya sehari-hari yang senantiasa
dapat mencari duit sampingan, meski hanya dapat dipergunakan untuk membeli
sebungkus rokok, namun yang pasti punya kelebihan khusus, dari Aldo dan Farid
yang hanya mampu mengharapkan duit dari kiriman orang tua.

 

****

 

Waktu berjalan perlahan namun
pasti, sehingga tidak dirasa beberapa hari telah berlalu dari malam diskusi
tentang sifat dan karakter antara Aldo, Farid, dan Tanto. Namun meskpun waktu
sudah berlalu, tetapi bagi si Farid masih terlihat jelas ketidak tengan jiwanya
oleh pernyataan sahabatnya si Aldo, mungkin karena Farid juga merasakan bahwa
kesehari-harianya di kost merupakan suruhan seisi rumah kost, untuk membeli
rokok, makana, dan sebagainya kewarung, menambah gusar hati Farid akan
pernyataan si Aldo.

 

Siang yang cerah ketika Farid
sedang duduk santai di sebuah café, Farid pun menceritakan akan kegusaran
hatinya, akan pernyataan si Aldo.

 

“saya rasa pernyataan kamu ada
benarnya Do, dan ketika kamu mengutarakan tentang sifat dan karakter saya, saya
melihat ketidak senangan di muka Tanto” Ujar Farid terhadap sahabatnya Aldo.

 

“Wah itu Cuma perasaan kamu saja
bung, lagian diskusi kita malam kemaren itu, hanya untuk memotivasi kita agar
berbuat lebih baik, dihari hari yang akan datang, dan tentunya hari ini” Ujar
Aldo menimpali pernyataan Farid.

 

“Salah!!! Tanto adalah salah satu
yang sering memposisikan saya sebagai pembantu di kost kita” Ujar Farid

 

“Maksut kamu? Memposisikan sebagai
pembantu bagaimana tuh?’ Ujar Aldo Penuh Tanya.

 

“Iya saya kan sering disuruh suruh pergi ke warung untuk beli sesuatu hal oleh si Tanto itu’
Ujar Farid.

 

“Truss… apa mau kamu lakukan”
ujar Aldo.

 

“kalau nanti aku di pojokkan
sebagai pembantu lagi oleh Tanto, saya akan membalasnya dengan cara-cara saya
sendiri, bahkan bisa-bisa dengan cara kekerasan” kata Farid sambi mengepal
kedua tinjunya.

 

“Wah kamu kok berbicara yang
tidak-tidak bro?, lagian kalau kamu sempat melakukan cara-cara kekerasan
terhadap Tanto, nanti saya juga yang bakalan kena getahnya, abiz kita ini kan
baru akrab, dan masalah juga berawal ketika saya mempresepsikan kamu sebagai pembantu,
jangan-jangan ntar teman-teman menggap saya menjadi biang permasalahan ini”
dengan serius Aldo mencoba meyakinkan Farid.

 

“Itu memang sudah menjadi
keputusan di dalam hati saya, dan keputusan itu tidak bisa dirubah kembali”
ujar Farid dengan ketus.

 

“Oke…! Tapi asal kamu tahu ajah
dah ketika kamu bentrok dengan Tanto, maka saya memutuskan berpisah sama kamu, dan
biarlah persahabatan kita kita sudahi saja, sebab saya justru akan tidak merasa
enak lagi dengan teman-teman dan termasuk Tanto sendiri” Kata Aldo.

 

“hehehehehhe, saya hanya bercanda
friend, dan memancing kamu aja kok, lagian saya tidak berniat untuk bentrok
dengan Tanto” ujar Farid sambil mimik mengejek ke arah Aldo.

 

Karena waktu menjelang magrib,
antara Aldo dan Farid menyudahi perbincangan mereka di café yang terletak tidak
jauh dari tempat kost mereka.

 

****

 

Hari Berganti Malam, dan Malam
Berganti hari, tidak terasa malam juga datang dikala matahari sudah tenggelam
di bagian sebelah barat  bumi. Malam pun
tiba, dan pada malam hari ini, beberapa anak kost yang sedang asik berkumpul di
dalam kamar kost nya Aldo sambil becanda gurau sambil mendengarkan alunan lagu
nan syahdu dari Personal Computer Pentium III nya Aldo.

 

Diatas sofa tempat tidur Aldo,
Farid dan Tanto duduk bersampingan, dan Tanto pun mulai melakukan ulah isengnya
ke arah Farid. Tanto menarik-narik tangan si Farid dan mengajak Farid untuk
menemaninya pergi ke warung untuk makan malam.

 

Karena ajakan Tanto tidak
ditanggapi oleh Farid, maka semakin kuat Tanto menarik-narik tangan Farid, dan
Secara refleks bogeman mentah  Farid
melayang ke arah kepala Tanto.

 

Tanto seketika terkejut, dan
begitu juga anak kost yang lain, yang sedari tadi asik mendengar lagu. Dan
karena bogeman Farid begitu kuat ke arah Tanto, membuat anak-anak kost
cenderung menyalahkan Farid dan menuduh Farid adalah seseorang yang tidak bisa
diajak bercanda, dan tempramature.

 

Karena Farid begitu dipojokkan di
kost oleh anak-anak yang lainnya, Farid tanpa ba-bi-bu langsung meninggalkan
ruangan kamar Aldo, dan pergi entah kemana. Aldo yang sedari awal juga tidak
menghendaki kejadian ini terjadi melongo diam dan membisu, entah apa yang
dipirkannya. Dan ketika suasana kembali tenang seperti semula, Aldo permisi
kepada teman-teman untuk mencari Farid yang sedari tadi pergi meninggalkan mereka.

CUPAK

Tuesday, May 15th, 2007
Tumba,
Gantang, dan Cupak adalah 3 orang bersaudara yang telah lama ditinggal
mati oleh kedua orang tuanya, kehidupan yang teramat miskin membuat
mereka harus memutuskan tinggal di ladang, dan disanalah mereka bertani
sekaligus mendirikan rumah (sapo).

 

Suatu
malam yang indah, ketika suara-suara hewan malam di pepohonan hutan
rimba tak jauh dari perladangan mereka bersorak sorai menyambut
kedatangan bulan yang terang, serta riak air sungai menambah semakin
terasa suasana yang nyaman dan tentram bagi manusia-manusia yang memang
dapat menyatukan jiwanya dengan alam.

 

Tumba,
Gantang, dan Cupak sudah selesai makan malam di sapo mereka, sambil
menunggu mata mengantuk, mereka menghabiskan waktu dengan meminum air
nira sambilan bercerita. Mereka membahas cerita bagitu menarik untuk
malam ini, sebab cerita yang dibahas adalah cerita tentang tujuan hidup
atau cita-cita hidup antara mereka bertiga.

 

Giliran
Tumba sebagai abang yang tertua yang ditanya apa kira-kira cita-cita
hidupnya, oleh kedua adiknya Sigantang, dengan Sicupak.

 

“Kalau
abang apa cita-citanya?” kata Gantang serempak bertanya dengan Cupak
kepada si Tumba. “Makan yang kenyang dengan lauk cabe tumbuk dengan
ramuan kemiri atau kacang, dan setelah selesai makan, meminum air nira
sepuasnya” Ujar Tumba dengan bangganya kepada adiknya.

 

Ketiga
giliran Gantang juga mengutarakan cita-citanya juga tidak jauh berbeda
dengan cita-cita yang diutarakan oleh Tumba sebelumnya. “Makan yang
kenyang dengan lauk cabe tumbuk dengan ramuan kemiri atau kacang, dan
setelah selesai makan, meminum air nira sepuasnya, kalau bisa sambil
memanggang ikan sungai dikala malam hari” Ujar Gantang tak kalah
bangganya dengan
Tumba.

 

Namun
ketika giliran si Cupak untuk mengutarakan cita-citanya, sungguh sangat
jauh berbeda dengan apa yang dicita-citakan oleh kedua abangnya. “Aku
bercita-cita, dimana suatu hari kelak aku mengkehendaki pergi kebarat,
maka pada waktu itu juga aku bisa sampai disana, dan begitu aku
berkehendak pergi ketimur, maka pada saat itu juga sampai di timur”
ujar Cupak dengan agak malu terhadap kedua abangnya.

 

“wah
cita-cita mu terlalu tinggi, ntar kamu akan cepat tua, bila kamu terus
bercita-cita yang bukan-bukan” Ujar Tumba dan Gantang serempak
kepada adiknya.

 

Karena
malam semakin larut, percakapan mengenai cita-citapun mereka akhiri,
namun ketika Cupak sudah terlelap tidur, Tumba dan Gantang masih belum
dapat memejamkan mata. Ternyata mereka masih terus memikirkan tentang
cita-cita Cupak yang begitu tinggi. “ Wah gawat kalau adik kita
mempunyai cita-cita yang terlalu tinggi seperti itu, jangan-jangan kita
nantinya bisa dibunuh oleh dia, dan menjual tanah warisan tanah orang
tua kita yang tersisa ini, untuk meraih cita-citanya”. Kata Tumba,
sambil Gantang Juga Mengiakan.
“Besok
kita coba tanya kembali cita-cita si Cupak, kalau memang besok juga dia
tetap bercita-cita seperti yang dia bilangkan tadi,
berarti kita harus bertindak sebelum segala sesuatunya terlambat” Kata
Gantang dan disepakati juga oleh Tumba.

 

****
Pada
malam ke-esokan harinya, ketika juga sudah selesai makan malam, sambil
menunggu mata mengantuk mereka kembali membicarakan hal tentang
cita-cita. Seperti cita-cita yang sudah diutarakan oleh ketiganya pada
malam sebelumnya, maka pada malam ini juga tidak ada perubahan
cita-cita, baik oleh Tumba, Gantang, maupun Cupak.

 

Ketika
pembicaraan selesai karena malam semakin larut, cupak kembali terlebih
dahulu terlelap tidur sama seperti hari-hari sebelumya. Namun Tumba dan
Gantang semakin tidak bisa memejamkan mata, karena Cupak masih tetap
dengan pendirian cita-citanya yang begitu tinggi.

 

“Gini
Gantang, kita harus bertindak cepat sebelum nantinya kita dicelakakan
oleh Cupak, sebab cita-citanya sudah terlalu tinggi, dan kita bakal
akan dibahayakan olehnya” Kata Tumba Kepada adiknya gantang.

 

“Kalau
gitu tindakan apa yang harus kita perbuat?” ujar Gantang kepada Tumba.
“Besok
kita bawa saja anak ini ke sungai, dan ketika kita mandi di sungai,
kita hanyutkan aja si Cupak biar mati” kata Tumba kepada Gantang.

 

Mereka berduapun sepakat untuk keseokan harinya akan membunuh si cupak, dengan cara menghanyutkanya di sungai.

 

*****
Ketika
siang hari, dimana setiap siangnya mereka bertiga selalu pergi ke
suangi untuk menghilangkan gerah dari sengatan matahari, dan begitu
juga dengan siang ini, mereka pergi menuju sungai dengan
perlengkapan-perlengkapan seperti tambe (tempat air yang terbuat dari
bambu) juga beberapa potong kain agar nantinya di cuci di sungai.

 

Saat
yang direncanakan pun tiba, ketika Cupak lagi asik-asiknya berenang
disungai, dan pada kesempatan itu juga, dia diahanyutkan oleh kedua
abangnya. Cupak histreris minta tolong, namun tidak dihiraukan oleh
kedua abangnya, karena hal ini memang sudah direncanakan sebelumya oleh
kedua abangnya ini.

 

Cupak hanya bisa pasrah dengan keadaan, dan semakin lama, semakin jauh terseret oleh derasnya arus sungai, menuju ke
muara.

 

****
Ayam
hutan berkokok pada sebuah pohon besar bertanda pagi telah tiba, dan
tepat pada akar pohon yang besar itu, tersangkut sesosok tubuh manusia,
dengan rasa sakit dan perih sesosok manusia itu mencoba bangkit menuju
daratan.

 

Ada

suatu kejanggalan dengan kejadian tersebut, dimana biasanya ayam hutan
yang
bersifat liar, dan takut melihat keberadaan manusia, namun pada saat
itu secara perlahan-lahan menghapiri sesosok tubuh yang masih lemah
tersebut.

 

Ayam
hutan mematuk-matuk kepalanya dengan perlahan, membuat sesosok manusia
tadi kaget, dan berdiri dengan perlahan lahan. Ayam hutan kembali
mematok kakinya dan bagian tubuh yang lainya.

 

Karena
sesosok manusia yang tak lain adalah Cupak ini merasa sangat janggal
dan aneh dengan kejadian ini, maka dia mencoba menghimpun tenaga yang
tersisa untuk, segera pergi meninggal tempat tersebut. Namun ketika
dia semakin cepat berjalan, semakin cepat pula ayam hutan mengikutinya,
sehingga meskipun Cupak teramat lemah namun berusaha berlari karena
sangat ketakutan.

 

Karena
terus berusaha lari dari kejaran ayam hutan, Cupak pun akhirnya tiba
disebuah perladangan yang banyak di tanami tanaman jagung, namun ketika
sampai diperladangan pun ayam hutan masih terus mengikutinya.

 

Cupak
pun pingsan untuk kedua kalinya diperladangan tersebut, namun ayam
hutan masih terus menunggui cupak tanpa beranjang dari tempanya
menengger.

 

Seorang
wanita paruh baya pemilik ladang jagungpun tiba dari kampung, ketika
hendak ingin membersihkan lahan jagungnya tersebut. Namun dia sangat
terkejut, karena dia melihat sesosok tubuh anak laki-laki tergeletak
sangat lemah di tepi Sapo di perladangan jagungnya.

 

Dia
berusaha untuk membangunkan Cupak, usahanya kelihatan berhasil dan
cupak pun terbangun dari pingsannya. “kamu kenapa nak” Tegur wanita
paruh baya terhadap cupak dengan perasaan yang iba melihat kondisi
cupak yang begitu sangat lemas.

 

Cupak
pun bercerita dari awal sampai akhir, sehingga dia bisa sampai
diperladangan wanita separuh baya tersebut. Karena wanita ini semakin
kasihan melihat cupak dan juga tentang yang cupak alami, maka wanita
tersebut pun menawarkan persediaan makanan yang dia bawa dari kampung.

 

Akhirnya
Wanita janda tanpa anak yang bernama Ruganda inipun menawarkan kepada
cupak, agar cupak bersedia menjadi anak angkatnya, sebab selain tidak
punya suami maupun anak Ruganda juga mempunyai banyak ternak seperti
lembu dan kerbau untuk digembalakan, dan dia juga menawarkan hal
tersebut kepada cupak supaya cupak dapat menjadi anak sekaligus
pengembala
ternak-ternaknya.

 

Ayam
yang dari tadinya mengikuti cupak juga belum pergi, karena ayam itu
tidak mau pergi, maka cupak pun memutuskan untuk membawa ayam itu
pulang ke kampung.

 

*****

 

Cupak telah beralih profesi menjadi pengembala lembu dan kerbau, dan dia juga selalu mengikut
sertakan ayam hutan yang sangat dia sayangi, yang dia dapatkan ketika ayam tersebut terus mengikutinya beberapa bulan yang lalu.

 

Karena di mbal-mbal (

padang

rumput ) sangat rame sekali orang pada hari itu, cupak pun mendekat menghampiri kerumunan orang-orang tersebut.

 

Ternyata
orang-orang yang berkumpul, adalah orang-orang yang sedang berjudi
sabung ayam, perjudian sabung ayam yang cupak saksikan inipun tidak
tanggung-tanggung ramainya, selain dari pada orangnya rame, taruhannya
juga sangat banyak, bahkan
ada yang berani taruhan ber puluh ekor lembu maupun kerbau.

 

Ayam
Kedep yang sedari tadi terus menerus memenangkan pertandingan sabung
ayam tersebut, sudah berpuluh-puluh lembu dan kerbau menang, karena
tidak pernah kalah, maka semua orang juga sudah enggan mempertarungkan
ayam mereka dengan ayam Sikedep.

 

Karena
kebetulan si cupak juga membawa ayam, maka Sikedep juga menantang Cupak
agar mau menyabung ayamnya dengan ayam Kedep. “ saya tidak mau berjudi,
karena selain ayam saya kecil, juga saya tidak punya uang untuk
taruhan” ujar cupak kepada
kedep.

 

“Wah
kalau ayam kamu bisa menang dengan ayam saya, maka saya akan memberikan
semuanya lembu dan kerbau yang sudah saya menangkan sebelumya” Ujar
Kedep kepada cupak dengan sombongnya. “Namun jika ayam kamu yang kecil
itu kalah, maka cukuphanya dengan memberikan bangkainya kepada saya,
tanpa kamu harus bayar apa-apa sama saya” ujar kedep menambahkan.

 

Karena
didesak terus oleh kedep dan juga orang-orang yang lainnya, cupak pun
mengiakan pertandingan sambung ayamnya dengan ayam sikedep.

 

Namun
keanehan juga terjadi pada saat itu, karena dalam waktu yang tidak
begitu terlalu lama, ayam kedep berhasil mati dipatuk oleh ayam cupak.
Cupak pun memenangkan pertandingan tersebut, dan membuahkan hasil
seluruh ternak yang sudah dimenangkan kedep sebelumya kini berpindah
tangan terhadapnya.

 

****
Hari
semakin hari, bulan pun berlalu, cupak selalu memenangkan pertandingan
sambung ayam, dan tentunya hal ini membuat cupak semakin kaya raya, dan
diapun memutuskan untuk pindah ke

kota

bersama ibu angkatnya.

 

Kuda-kuda pun dibeli cupak sebagai pengangkutan sehari-hari di

kota

, dan penghasilan cupak juga bertambah banyak dengan usaha pengangkutan kuda di

kota

.

 

Karena
berketepan dengan hari tiga (pekan) Tumba dan Gantang abang cupak juga
turut serta pergi kesana untuk membawa hasil ladang mereka, seperti
kemiri, daun kates, daun ubi, dan sayur sayuran lainnya.

 

Sesampainya
di kota mereka berduapun memasarkan hasil pertanian mereka, tanpa
disengaja cupak juga kebetulan melintas didepan kedua abangnya yang
sedang berjualan, namun Tumba dan Gantang tidak mengenal lagi sesosok
cupak, namun cupak masih mengenali keduanya.

 

“berapa
harganya kalian jual barang dagangan kalian” kata cupak kepada Tumba
dan Gantang. “Oh tidak mahal tuan, cukup dengan 5 stali saja, maka
semua barang-barang kami boleh tuan ambil” kata Tumba dan Gantang
kepada cupak.

 

“kalau begitu saya ambil semuanya” ujar cupak sambil memberikan uang 10 stali kepada tumba dan gantang.

 

“Namun
ada syaratnya, minggu depan kalian harus membawa barang-barang kalian
lebih banyak lagi dari pada barang-barang kalian hari ini” kata cupak,
dan tumba dan gantang juga menyepakati permintaan cupak.

 

*****
Minggu berikutnyapun
tiba, tumba dan gantang juga sudah sampai di

kota

,
dan cupak juga sudah menunggu mereka ditempat sebelumnya. “Hari ini
kalian tidak usah pulang dulu ke kampung, karena saya mempunyai rencana
untuk membawa kalian berdua makan malam dan menginap di rumah saya”
kata cupak kepada mereka. “wah tidak usah repot-repot tuan, sebab kami
tidak pantas berada di rumah tuan” ujar tumba dan gantang sambil
malu-malu.

 

“Wah
nggap apa-apa, saya memang sudah merencanakan demikian” kata cupak
lagi. Akhirnya tumba dan gantang sepakat untuk tidak pulang hari ini,
namun memutuskan untuk menginap dirumah Cupak.

 

****

 

Makan
malam pun telah selesai, mereka pun akhirnya bercerita setelah itu,
namun pada kenyataanya Tumba dan Gantang belum mengenai si Cupak.

 

Setelah
cerita-cerita telah dimulai, cupak pun berkata kepada kedua abangnya,
bahwa dialah cupak yang telah selamat dari ulah kedua abangnya yang
telah menghanyutkanya beberapa tahun yang lalu.

 

Tumba
dan Gantang sangat terkejut akan hal tersebut, namun cupak berkata
“jangan takut karena saya tidak akan menuntut kalian berdua, sebab
tanpa perbuatan kalian, nasib saya mungkin tidak akan pernah berubah
seperti saat sekarangi ini” Ujar Cupak.

 

Merekapun saling maaf bermaafan pada saat itu, dan cupakpun akhirnya menyuruh kedua abangnya agar tinggal di

kota

, dan membuka usaha baru sebagai penyedia jasa transportasi kuda.

 

SEKIAN