Hujan Api

Mayat Manusia bergelimpangan, darah mengalir dengan derasnya dari
mayat-mayat yang terbujur kaku diatas rerumputan kering seakan sudah
lama tidak pernah terkena siraman air.

Orang-orang yang masih hidup lari pontang-panting menyelamatkan diri,
dengan teriakan minta tolong dari mulutnya yang sudah kering bagaikan
kertas hitam yang sebentar lagi mungkin akan terbakar.

Susasana semakin mencekam, ketika yang terdengar hanyalah dentuman
gemuruh bagaikan suara halilintar yang siap menggosongkan segala
sesuatu yang disambarnya.

Tidak ada lagi suara manusia lemah meminta tolong, sebab mereka telah
berlari dan bersembunyi didalam goa gelap, dan tidak ada satupun
diantara mereka berani bersuara, karena beberapa diantaranya yang
memberanikan diri untuk bersuara satu, demi satu hilang entah kemana,
dan sampai sekarang tidak pernah datang kembali.

Sayup-sayup terdengar suara para Kuli Tinta, yang mencoba menyuarakan
berita peristiwa tersebut, dan untuk disiarkan keseluruh dunia.

Suara kuli tinta tersebut juga didengar oleh manusia lemah yang saat
itu masih bersembunyi didalam goa. Mereka saling berbisik antara satu
dengan yang lain dan dan berkata "Apakah para Kuli Tinta telah
memberikan informasi tentang peristiwa yang sebenarnya, juga tentang
keberadaan mereka saat ini?, dan apakah mungkin dengan bantuan para
kuli tinta, maka suatu saat mereka bisa kembali keluar dari tempat
persembunyian, untuk kembali melanjutkan hidup yang bebas seperti yang
selama ini mereka impikan?"

Tidak satupun diantara mereka yang mampu menjawab, hanya hati nurani
dan waktu yang mampu menjawabnya, namun yang pasti manusia lemah, satu
demi satu telah mati oleh sengatan hujan api, yang sakitnya tidak
pernah dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Dan sakit yang semakin menjadi-jadi, ketika manusia lemah tahu, bahwa
sumber Hujan Api yang membunuh saudara-saudara mereka, adalah Hujan Api
yang telah mereka beli, yang awalnya bertujuan untuk melindungi mereka.

Leave a Reply