Minggu, 24 Juni 2007 merupakan
hari yang tidak mudah aku lupakan. Karena kebetulan hari ini tidak ada jadwal
kegiatan, sambil bermalas-malasan saya tetap berbaring di tempat tidur kamar
kost saya hingga jam di dinding kamar menunjukkan pukul 11 siang.
Seperti hari-hari biasanya,
ketika perut tidak dapat lagi diajak kompromi dan ingin segera di isi dengan
nasi, saya akan pergi ke kamar sebelah yang ditempati oleh teman saya, dan
biasanya saya akan meminta bantuan kepadanya untuk membeli makanan di luar.
Salah satu temen saya sepertinya
lagi malas untuk keluar membeli makanan, dan dia beralasan sedang sakit perut,
jadi terpaksa dah dengan berat hati saya menemani kawan yang lain untuk membeli
makanan dengan berboncengan kenderaan motor butut yang dimiliki oleh teman lain
yang juga tinggal di kost tempat kami bersuka cita sehari-hari.
Sepeda motor kini telah meluncur
menuju tempat kami selalu membeli makanan yang dikemudikan oleh teman saya, dan
saya dibonceng di belakang dengan perasaan sedikit kesal, ditambah gerahnya
mentari siang ini di kota kami.
Sesampainya di warung tempat
membeli makanan ada satu hal lagi yang membuat kami semakin BT dan memutuskan
untuk segera pergi meninggalkan warung itu, sebab kebetulan karena hari minggu
sangat ramai sekali pengunjungnya, dan kalau menunggu bisa-bisa selama 2 jam
tidak akan mendapatkan jatah makanan.
Di warung lain yang kebetulan
tidak seramai warung semula, kami memesan makanan yang seadanya, dan setelah
makanan dibungkus oleh pelayan warung tersebut, administrasi pembayarannya
langsung diselesaikan oleh teman saya, dan sesegera mungkin tancap gas menuju
kost karena tidak sabar lagi ingin segera mengisi perut yang semakin tidak
dapat diajak kompromi.
Mungkin angin siang itu tidak
begitu kencang, tapi karena kami terlalu cepat mengendarai sepeda motor butut
tersebut topi yang dikenakan oleh teman saya (sang pengemudi motor) tiba-tiba
terbang, dan inilah awal kejadian yang sebenarnya.
Jalanan yang ramai membuat teman
saya tidak dapat mengendalikan sepeda motor, tapi yang pasti saya tidak tahu
apa yang sedang dia pikirkan saat itu, apakah dia lagi memikirkan topinya yang
terjatuh barusan atau entah apa, tapi tiba-tiba teman saya kelihatan begitu
sangat panik sekali, sehingga untuk memencet rem motor saja dia sudah lupa.
Kebetulan didepan kami ada cewek
yang sedang mengendarai sepeda motor juga, dengan santainya cewek tersebut
tidak peduli bahwa dibelakangnya ternyata motor yang kami kenderai tidak dapat
dikendalikan lagi dengan baik oleh teman saya.
Motor yang kami kenderai semakin
tidak terkendali oleh teman saya, dan akhirnya harus menggambil ke sebelah
kanan dan disana adalah trotoar pembatas jalan (mungkin ini dilakukan untuk
mengindari supaya tidak menambrak motor cewek yang sedang berjalan dengan
santai di depan kami).
Ban sepeda motor bergesekan
dengan trotoar membuat motor yang kami kendarai tiba-tiba terjatuh dan
terpental di aspal jalan raya.
Kejadian yang sekejap namun cukup
membuat saya tidak mudah melupakan kejadiannya, karena saya perhatikan ada
mengucur darah deras dari tangan sebelah kiri saya, baik dari siku dan juga
jari tengah dan jari kelingking.
Makanan yang kami bawa juga ikut
terjatuh dan berhamburan di jalanan, orang-orang disekitar mulai rame mendekat
ke arah kami, karena ingin memastikan bagaimana keadaan kami dengan teman saya.
Dengan sedikit malu dengan hal
yang baru saja menimpa kami, dengan sesegera mungkin kami berdua langsung berdiri
dan melihat kondisi motor dan karena kondisi motor masih dalam keadaan baik,
maka motor tersebut langsung di start, dan sesegera mungkin berlalu untuk
meninggalkan tempat kejadian.
Sesampai di kost saya memeriksa
bagian-bagian tubuh saya yang lain, dan ternyata pada bagian kaki juga ada
sedikit luka yang tidak separah luka yang ada di tangan kiri saya.
Dengan menggunakan obat-obatan
seadanya saya mencoba mengobati luka-luka saya, dan menyempatkan juga bertanya
kepada teman saya, tentang keadaannya apakah juga terluka seperti yang saya
alami, namun karena dia menjawab dia tidak ada mengalami luka sedikitpun, hati
saya tampak sedikit lega juga, meski rasa nyeri dan ngilu kini semakin terasa
dari luka-luka yang ada di kaki dan tangan saya.
Sampai tulisan ini saya tulis
keadaan saya sudah semakin membaik, dan luka-luka yang ada di tangan dan kaki
juga kini telah mongering, dan beberapa hari kedepan mungkin sudah sembuh
total.
Itulah sedikit kisah yang saya
alami pada hari minggu itu, dan saya ingin mengambil hikmahnya saja, sekaligus
untuk memotivasi diri agar semakin berhati-hati ketika mengendara sepeda motor,
dan senantiasa tidak panik didalam menghadapi sebuah masalah.