Pernanden Karo

Sewaktu masih kecil di kampung, dan ketika liburan
kuliah tiba saya melihat bagaimana sulitna peranan
para "Pernanden Karo" didalam melaksanakan aktivitas
sehari-hari sebagai petani tradisional.

Pagi-pagi buta, ketika sang suami masih tertidur
lelap, sang istri sudah pergi mengambil air untuk
keperluan memasak, mapun mencuci pakaian yang kotor ke
kali.

Ketika matahari muncul di sebelah timur dunia, ketika
sang suami sudah terbangun dari lelapnya tidur malam,
istri sudah kembali dari kali, dan sang istri kemudian
mempesiapkan sarapan pagi di dapur.

Selagi istri sibuk-sibuk mempersiapkan sarapan pagi di
dapur , namun sang suami mempersiapkan diri untuk
pergi ke kede kopi, untuk menyalurkan hobby sebagai
pengemar kede kopi.

Sarapan pagi sudah selesai dipersiapkan sang istri,
maka sang istri biasanya memangil suami untuk sarapan
bersama dirumah. Dan ketika acara sarapan telah
selesai, maka antara suami dan istri mempersiapkan
diri untuk berangkat bersama menuju areal perladangan
mereka.

Ketika berangkat menuju areal perladangan, maka pada
saat itu sang istri biasanya membawa makanan untuk
keperluan makan siang nantinya diladang, dan sang
suami biasanya hanya membawa cangkol, maupun pisau,
sebagai alat untuk dipergunakan untuk membersihkan
ladang mereka.

Sore telah tiba, saatnya akan pulang dari perladangan
mereka, dan pada saat ini dapat juga kita melihat,
bagaimana seorang istri akan membawa ranting untuk
keperluan kayu bakar.

Sampai dirumah, maka sang istri akan kembali pergi ke
kali untuk mengambil air untuk keperluan memasak
sekaligus mandi sore.

Mempersiapakan makanan malam, juga merupakan rutinitas
yang dilakukan oleh sang istri, dimana pada saat yang
bersamaan sang suami akan kembali pergi ke kede kopi
untuk menyalurkan hobbynya sebagai pengemar kede kopi.

Keuletan Wanita Karo juga dapat kita lihat di kota
besar, seperti di Kota Medan.

Para Pernanden yang pekerjaannya adalah sebagai
pedagang sayur mayur di "pajak Pagi" sambo Medan,
harus pergi ke tempat pekerjaan ketika menjelang pagi
buta, bahkan ada sebagian para pedagang yang lebih
awal datang menuju tempatnya berjualan.

Namun ketika pulang dari tempatnya berjualan, pada
siang hari (kira-kira pukul 11 siang), maka para
Pernanden ini, tidak akan lupa mengerjakan
rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga untuk
mempersiapkan makanan siang.

Mungkin dari tulisan diatas ini, merupakan bagian
sedikit banyaknya bagaiamana peranan ibu rumah tangga
(pernanden) karo didalam menjalankan kehidupan
sehari-hari untuk menyokong perekonomian keluarganya.

Tampaklah bahwa "pernanden" karo, adalah "pernanden"
yang ulet dan gigih, tanpa pernah mengeluh akan nasib
yang mereka alami, secara terus menerus untuk keluarga
yang mereka cintai.

Bujur ikataken kami anak-anakndu, men kam nande kami
si enggo pebelin-belin kami, aru la erlatih-latih
erdahin bali suari bagekape ras berngi.

2 Responses to “Pernanden Karo”

  1. Broetals Says:

    Memang pahit hiduo pernanden yang mana ddia hanya tau kerja dimi untuk kehidupan anak - anak serta suaminya. Dia tidak mengenal lelah. Oh nande ku inget lalap jasa ndu Bujur Ras Mejuah - Juah. Menang Terus Bul

  2. indah Says:

    udah pernah pun bul kam ceritakan yang lain donk

Leave a Reply