Beberapa pemuda dengan status sebagai mahasiswa
di kota Harapan dan memilih tinggal satu kost, dimana para pemuda
tersebut berasal dari desa yang sama, dan notebene masih mempunyai status
kekerabatan yang sungguh masih sangat dekat sekali
Karena rumah kost yang mereka
tempati dalam kondisi yang luas, sehingga memungkinkan banyak orang diluar dari
kelompok pemuda tadi yang juga turut tinggal disana.
Ketika salah seorang anak kost
baru yang bernama Aldo menempati salah
satu kamar di kostan tersebut, dengan ramahnya Aldo juga mencoba mulai
melakukan pendekatan dan bergaul dengan anak kost yang lama.
Beberapa bulan berlalu Aldo yang kebetulan merasa sangat cocok berteman
baik dengan anak kost lama yang bernama Farid. Karena sudah begitu akrab dan
kompak, mereka berdua seakan tiada bisa dipisah, dan kelihatan juga pada setiap
malam mereka selalu menyempatkan waktu untuk berdiskusi bersama meskipun hanya
sebatas diskusi masalah pendidikan, dan tak jarang juga berdiskusi mengenai
bagaimana cara mendapatkan gadis pujaan, karena mereka berdua juga kebetulan
adalah jombloan sejati.
Farid dan beberapa anak kost yang
lain yang kebetulan kebanyakan adalah anak satu kampungnya kelihatan semakin
menjauh dari mereka, dikarenakan kekompakan yang begitu erat antara dia dengan
Aldo, namun meskipun demikian adanya namun sesekali, masih terlihat melakukan
intraksi tegur sapa yang cenderung diartikan hanya sebatas ‘say hello’ saja.
Pada suatu malam dimana kegiatan
diskusi yang senantiasa dilakukan telah tiba, dan saat itu topik yang mereka
bicarakan adalah mengenai karakter dan sifat masing-masing. Pada saat diskusi
tersebut, bergabung juga salah seorang anak kost yang satu kampung dengan
Farid. Tanto begitulah anak-anak satu kost memanggil nama seorang pemuda yang
berbadan tegak, dan berkulit hitam pekat itu.
Pada diskusi ini yang pertama
sekali di kritisi karakter dan sifatnya adalah si Aldo oleh Farid dan Tanto,
dimana kalau menurut mereka berdua, bahwa sifat Aldo cenderung stress dan tidak
punya gairah untuk hidup. Kebanyakan ilusi dan memikirkan hal-hal yang terlalu
tinggi mengakibatkan Aldo kelihatan seperti orang yang putus semangat,
begitulah kira-kira tanggapan Farid dan Tanto terhadap Aldo.
Setelah sifat dan karakter Farid
yang menjadi bahan kritisan, maka Aldo berpendapat bahwa Farid cenderung tidak
mempunyai aura yang baik, dan Aldo dengan lantak menyebut sifat Fafrid yang
sehari-hari terlihat seperti sifat para pembantu. Meskipun tanggapan Tanto
tidak begitu membenarkan tanggapan Aldo, namun karena Aldo adalah kawan
dekatnya Farid, membuat Farid lebih mempercayai pernyataan Aldo dari pada
pernyataan Tanto.
Dan untuk Tanto, dinyatakan
sebagai seseorang yang akan bakal menjadi pembesar ataupun seorang pengusaha
yang sukses, ini dilihat dari kebiasaan-kebiasaanya sehari-hari yang senantiasa
dapat mencari duit sampingan, meski hanya dapat dipergunakan untuk membeli
sebungkus rokok, namun yang pasti punya kelebihan khusus, dari Aldo dan Farid
yang hanya mampu mengharapkan duit dari kiriman orang tua.
****
Waktu berjalan perlahan namun
pasti, sehingga tidak dirasa beberapa hari telah berlalu dari malam diskusi
tentang sifat dan karakter antara Aldo, Farid, dan Tanto. Namun meskpun waktu
sudah berlalu, tetapi bagi si Farid masih terlihat jelas ketidak tengan jiwanya
oleh pernyataan sahabatnya si Aldo, mungkin karena Farid juga merasakan bahwa
kesehari-harianya di kost merupakan suruhan seisi rumah kost, untuk membeli
rokok, makana, dan sebagainya kewarung, menambah gusar hati Farid akan
pernyataan si Aldo.
Siang yang cerah ketika Farid
sedang duduk santai di sebuah café, Farid pun menceritakan akan kegusaran
hatinya, akan pernyataan si Aldo.
“saya rasa pernyataan kamu ada
benarnya Do, dan ketika kamu mengutarakan tentang sifat dan karakter saya, saya
melihat ketidak senangan di muka Tanto” Ujar Farid terhadap sahabatnya Aldo.
“Wah itu Cuma perasaan kamu saja
bung, lagian diskusi kita malam kemaren itu, hanya untuk memotivasi kita agar
berbuat lebih baik, dihari hari yang akan datang, dan tentunya hari ini” Ujar
Aldo menimpali pernyataan Farid.
“Salah!!! Tanto adalah salah satu
yang sering memposisikan saya sebagai pembantu di kost kita” Ujar Farid
“Maksut kamu? Memposisikan sebagai
pembantu bagaimana tuh?’ Ujar Aldo Penuh Tanya.
“Iya saya kan sering disuruh suruh pergi ke warung untuk beli sesuatu hal oleh si Tanto itu’
Ujar Farid.
“Truss… apa mau kamu lakukan”
ujar Aldo.
“kalau nanti aku di pojokkan
sebagai pembantu lagi oleh Tanto, saya akan membalasnya dengan cara-cara saya
sendiri, bahkan bisa-bisa dengan cara kekerasan” kata Farid sambi mengepal
kedua tinjunya.
“Wah kamu kok berbicara yang
tidak-tidak bro?, lagian kalau kamu sempat melakukan cara-cara kekerasan
terhadap Tanto, nanti saya juga yang bakalan kena getahnya, abiz kita ini kan
baru akrab, dan masalah juga berawal ketika saya mempresepsikan kamu sebagai pembantu,
jangan-jangan ntar teman-teman menggap saya menjadi biang permasalahan ini”
dengan serius Aldo mencoba meyakinkan Farid.
“Itu memang sudah menjadi
keputusan di dalam hati saya, dan keputusan itu tidak bisa dirubah kembali”
ujar Farid dengan ketus.
“Oke…! Tapi asal kamu tahu ajah
dah ketika kamu bentrok dengan Tanto, maka saya memutuskan berpisah sama kamu, dan
biarlah persahabatan kita kita sudahi saja, sebab saya justru akan tidak merasa
enak lagi dengan teman-teman dan termasuk Tanto sendiri” Kata Aldo.
“hehehehehhe, saya hanya bercanda
friend, dan memancing kamu aja kok, lagian saya tidak berniat untuk bentrok
dengan Tanto” ujar Farid sambil mimik mengejek ke arah Aldo.
Karena waktu menjelang magrib,
antara Aldo dan Farid menyudahi perbincangan mereka di café yang terletak tidak
jauh dari tempat kost mereka.
****
Hari Berganti Malam, dan Malam
Berganti hari, tidak terasa malam juga datang dikala matahari sudah tenggelam
di bagian sebelah barat bumi. Malam pun
tiba, dan pada malam hari ini, beberapa anak kost yang sedang asik berkumpul di
dalam kamar kost nya Aldo sambil becanda gurau sambil mendengarkan alunan lagu
nan syahdu dari Personal Computer Pentium III nya Aldo.
Diatas sofa tempat tidur Aldo,
Farid dan Tanto duduk bersampingan, dan Tanto pun mulai melakukan ulah isengnya
ke arah Farid. Tanto menarik-narik tangan si Farid dan mengajak Farid untuk
menemaninya pergi ke warung untuk makan malam.
Karena ajakan Tanto tidak
ditanggapi oleh Farid, maka semakin kuat Tanto menarik-narik tangan Farid, dan
Secara refleks bogeman mentah Farid
melayang ke arah kepala Tanto.
Tanto seketika terkejut, dan
begitu juga anak kost yang lain, yang sedari tadi asik mendengar lagu. Dan
karena bogeman Farid begitu kuat ke arah Tanto, membuat anak-anak kost
cenderung menyalahkan Farid dan menuduh Farid adalah seseorang yang tidak bisa
diajak bercanda, dan tempramature.
Karena Farid begitu dipojokkan di
kost oleh anak-anak yang lainnya, Farid tanpa ba-bi-bu langsung meninggalkan
ruangan kamar Aldo, dan pergi entah kemana. Aldo yang sedari awal juga tidak
menghendaki kejadian ini terjadi melongo diam dan membisu, entah apa yang
dipirkannya. Dan ketika suasana kembali tenang seperti semula, Aldo permisi
kepada teman-teman untuk mencari Farid yang sedari tadi pergi meninggalkan mereka.