CUPAK

Tumba,
Gantang, dan Cupak adalah 3 orang bersaudara yang telah lama ditinggal
mati oleh kedua orang tuanya, kehidupan yang teramat miskin membuat
mereka harus memutuskan tinggal di ladang, dan disanalah mereka bertani
sekaligus mendirikan rumah (sapo).

 

Suatu
malam yang indah, ketika suara-suara hewan malam di pepohonan hutan
rimba tak jauh dari perladangan mereka bersorak sorai menyambut
kedatangan bulan yang terang, serta riak air sungai menambah semakin
terasa suasana yang nyaman dan tentram bagi manusia-manusia yang memang
dapat menyatukan jiwanya dengan alam.

 

Tumba,
Gantang, dan Cupak sudah selesai makan malam di sapo mereka, sambil
menunggu mata mengantuk, mereka menghabiskan waktu dengan meminum air
nira sambilan bercerita. Mereka membahas cerita bagitu menarik untuk
malam ini, sebab cerita yang dibahas adalah cerita tentang tujuan hidup
atau cita-cita hidup antara mereka bertiga.

 

Giliran
Tumba sebagai abang yang tertua yang ditanya apa kira-kira cita-cita
hidupnya, oleh kedua adiknya Sigantang, dengan Sicupak.

 

“Kalau
abang apa cita-citanya?” kata Gantang serempak bertanya dengan Cupak
kepada si Tumba. “Makan yang kenyang dengan lauk cabe tumbuk dengan
ramuan kemiri atau kacang, dan setelah selesai makan, meminum air nira
sepuasnya” Ujar Tumba dengan bangganya kepada adiknya.

 

Ketiga
giliran Gantang juga mengutarakan cita-citanya juga tidak jauh berbeda
dengan cita-cita yang diutarakan oleh Tumba sebelumnya. “Makan yang
kenyang dengan lauk cabe tumbuk dengan ramuan kemiri atau kacang, dan
setelah selesai makan, meminum air nira sepuasnya, kalau bisa sambil
memanggang ikan sungai dikala malam hari” Ujar Gantang tak kalah
bangganya dengan
Tumba.

 

Namun
ketika giliran si Cupak untuk mengutarakan cita-citanya, sungguh sangat
jauh berbeda dengan apa yang dicita-citakan oleh kedua abangnya. “Aku
bercita-cita, dimana suatu hari kelak aku mengkehendaki pergi kebarat,
maka pada waktu itu juga aku bisa sampai disana, dan begitu aku
berkehendak pergi ketimur, maka pada saat itu juga sampai di timur”
ujar Cupak dengan agak malu terhadap kedua abangnya.

 

“wah
cita-cita mu terlalu tinggi, ntar kamu akan cepat tua, bila kamu terus
bercita-cita yang bukan-bukan” Ujar Tumba dan Gantang serempak
kepada adiknya.

 

Karena
malam semakin larut, percakapan mengenai cita-citapun mereka akhiri,
namun ketika Cupak sudah terlelap tidur, Tumba dan Gantang masih belum
dapat memejamkan mata. Ternyata mereka masih terus memikirkan tentang
cita-cita Cupak yang begitu tinggi. “ Wah gawat kalau adik kita
mempunyai cita-cita yang terlalu tinggi seperti itu, jangan-jangan kita
nantinya bisa dibunuh oleh dia, dan menjual tanah warisan tanah orang
tua kita yang tersisa ini, untuk meraih cita-citanya”. Kata Tumba,
sambil Gantang Juga Mengiakan.
“Besok
kita coba tanya kembali cita-cita si Cupak, kalau memang besok juga dia
tetap bercita-cita seperti yang dia bilangkan tadi,
berarti kita harus bertindak sebelum segala sesuatunya terlambat” Kata
Gantang dan disepakati juga oleh Tumba.

 

****
Pada
malam ke-esokan harinya, ketika juga sudah selesai makan malam, sambil
menunggu mata mengantuk mereka kembali membicarakan hal tentang
cita-cita. Seperti cita-cita yang sudah diutarakan oleh ketiganya pada
malam sebelumnya, maka pada malam ini juga tidak ada perubahan
cita-cita, baik oleh Tumba, Gantang, maupun Cupak.

 

Ketika
pembicaraan selesai karena malam semakin larut, cupak kembali terlebih
dahulu terlelap tidur sama seperti hari-hari sebelumya. Namun Tumba dan
Gantang semakin tidak bisa memejamkan mata, karena Cupak masih tetap
dengan pendirian cita-citanya yang begitu tinggi.

 

“Gini
Gantang, kita harus bertindak cepat sebelum nantinya kita dicelakakan
oleh Cupak, sebab cita-citanya sudah terlalu tinggi, dan kita bakal
akan dibahayakan olehnya” Kata Tumba Kepada adiknya gantang.

 

“Kalau
gitu tindakan apa yang harus kita perbuat?” ujar Gantang kepada Tumba.
“Besok
kita bawa saja anak ini ke sungai, dan ketika kita mandi di sungai,
kita hanyutkan aja si Cupak biar mati” kata Tumba kepada Gantang.

 

Mereka berduapun sepakat untuk keseokan harinya akan membunuh si cupak, dengan cara menghanyutkanya di sungai.

 

*****
Ketika
siang hari, dimana setiap siangnya mereka bertiga selalu pergi ke
suangi untuk menghilangkan gerah dari sengatan matahari, dan begitu
juga dengan siang ini, mereka pergi menuju sungai dengan
perlengkapan-perlengkapan seperti tambe (tempat air yang terbuat dari
bambu) juga beberapa potong kain agar nantinya di cuci di sungai.

 

Saat
yang direncanakan pun tiba, ketika Cupak lagi asik-asiknya berenang
disungai, dan pada kesempatan itu juga, dia diahanyutkan oleh kedua
abangnya. Cupak histreris minta tolong, namun tidak dihiraukan oleh
kedua abangnya, karena hal ini memang sudah direncanakan sebelumya oleh
kedua abangnya ini.

 

Cupak hanya bisa pasrah dengan keadaan, dan semakin lama, semakin jauh terseret oleh derasnya arus sungai, menuju ke
muara.

 

****
Ayam
hutan berkokok pada sebuah pohon besar bertanda pagi telah tiba, dan
tepat pada akar pohon yang besar itu, tersangkut sesosok tubuh manusia,
dengan rasa sakit dan perih sesosok manusia itu mencoba bangkit menuju
daratan.

 

Ada

suatu kejanggalan dengan kejadian tersebut, dimana biasanya ayam hutan
yang
bersifat liar, dan takut melihat keberadaan manusia, namun pada saat
itu secara perlahan-lahan menghapiri sesosok tubuh yang masih lemah
tersebut.

 

Ayam
hutan mematuk-matuk kepalanya dengan perlahan, membuat sesosok manusia
tadi kaget, dan berdiri dengan perlahan lahan. Ayam hutan kembali
mematok kakinya dan bagian tubuh yang lainya.

 

Karena
sesosok manusia yang tak lain adalah Cupak ini merasa sangat janggal
dan aneh dengan kejadian ini, maka dia mencoba menghimpun tenaga yang
tersisa untuk, segera pergi meninggal tempat tersebut. Namun ketika
dia semakin cepat berjalan, semakin cepat pula ayam hutan mengikutinya,
sehingga meskipun Cupak teramat lemah namun berusaha berlari karena
sangat ketakutan.

 

Karena
terus berusaha lari dari kejaran ayam hutan, Cupak pun akhirnya tiba
disebuah perladangan yang banyak di tanami tanaman jagung, namun ketika
sampai diperladangan pun ayam hutan masih terus mengikutinya.

 

Cupak
pun pingsan untuk kedua kalinya diperladangan tersebut, namun ayam
hutan masih terus menunggui cupak tanpa beranjang dari tempanya
menengger.

 

Seorang
wanita paruh baya pemilik ladang jagungpun tiba dari kampung, ketika
hendak ingin membersihkan lahan jagungnya tersebut. Namun dia sangat
terkejut, karena dia melihat sesosok tubuh anak laki-laki tergeletak
sangat lemah di tepi Sapo di perladangan jagungnya.

 

Dia
berusaha untuk membangunkan Cupak, usahanya kelihatan berhasil dan
cupak pun terbangun dari pingsannya. “kamu kenapa nak” Tegur wanita
paruh baya terhadap cupak dengan perasaan yang iba melihat kondisi
cupak yang begitu sangat lemas.

 

Cupak
pun bercerita dari awal sampai akhir, sehingga dia bisa sampai
diperladangan wanita separuh baya tersebut. Karena wanita ini semakin
kasihan melihat cupak dan juga tentang yang cupak alami, maka wanita
tersebut pun menawarkan persediaan makanan yang dia bawa dari kampung.

 

Akhirnya
Wanita janda tanpa anak yang bernama Ruganda inipun menawarkan kepada
cupak, agar cupak bersedia menjadi anak angkatnya, sebab selain tidak
punya suami maupun anak Ruganda juga mempunyai banyak ternak seperti
lembu dan kerbau untuk digembalakan, dan dia juga menawarkan hal
tersebut kepada cupak supaya cupak dapat menjadi anak sekaligus
pengembala
ternak-ternaknya.

 

Ayam
yang dari tadinya mengikuti cupak juga belum pergi, karena ayam itu
tidak mau pergi, maka cupak pun memutuskan untuk membawa ayam itu
pulang ke kampung.

 

*****

 

Cupak telah beralih profesi menjadi pengembala lembu dan kerbau, dan dia juga selalu mengikut
sertakan ayam hutan yang sangat dia sayangi, yang dia dapatkan ketika ayam tersebut terus mengikutinya beberapa bulan yang lalu.

 

Karena di mbal-mbal (

padang

rumput ) sangat rame sekali orang pada hari itu, cupak pun mendekat menghampiri kerumunan orang-orang tersebut.

 

Ternyata
orang-orang yang berkumpul, adalah orang-orang yang sedang berjudi
sabung ayam, perjudian sabung ayam yang cupak saksikan inipun tidak
tanggung-tanggung ramainya, selain dari pada orangnya rame, taruhannya
juga sangat banyak, bahkan
ada yang berani taruhan ber puluh ekor lembu maupun kerbau.

 

Ayam
Kedep yang sedari tadi terus menerus memenangkan pertandingan sabung
ayam tersebut, sudah berpuluh-puluh lembu dan kerbau menang, karena
tidak pernah kalah, maka semua orang juga sudah enggan mempertarungkan
ayam mereka dengan ayam Sikedep.

 

Karena
kebetulan si cupak juga membawa ayam, maka Sikedep juga menantang Cupak
agar mau menyabung ayamnya dengan ayam Kedep. “ saya tidak mau berjudi,
karena selain ayam saya kecil, juga saya tidak punya uang untuk
taruhan” ujar cupak kepada
kedep.

 

“Wah
kalau ayam kamu bisa menang dengan ayam saya, maka saya akan memberikan
semuanya lembu dan kerbau yang sudah saya menangkan sebelumya” Ujar
Kedep kepada cupak dengan sombongnya. “Namun jika ayam kamu yang kecil
itu kalah, maka cukuphanya dengan memberikan bangkainya kepada saya,
tanpa kamu harus bayar apa-apa sama saya” ujar kedep menambahkan.

 

Karena
didesak terus oleh kedep dan juga orang-orang yang lainnya, cupak pun
mengiakan pertandingan sambung ayamnya dengan ayam sikedep.

 

Namun
keanehan juga terjadi pada saat itu, karena dalam waktu yang tidak
begitu terlalu lama, ayam kedep berhasil mati dipatuk oleh ayam cupak.
Cupak pun memenangkan pertandingan tersebut, dan membuahkan hasil
seluruh ternak yang sudah dimenangkan kedep sebelumya kini berpindah
tangan terhadapnya.

 

****
Hari
semakin hari, bulan pun berlalu, cupak selalu memenangkan pertandingan
sambung ayam, dan tentunya hal ini membuat cupak semakin kaya raya, dan
diapun memutuskan untuk pindah ke

kota

bersama ibu angkatnya.

 

Kuda-kuda pun dibeli cupak sebagai pengangkutan sehari-hari di

kota

, dan penghasilan cupak juga bertambah banyak dengan usaha pengangkutan kuda di

kota

.

 

Karena
berketepan dengan hari tiga (pekan) Tumba dan Gantang abang cupak juga
turut serta pergi kesana untuk membawa hasil ladang mereka, seperti
kemiri, daun kates, daun ubi, dan sayur sayuran lainnya.

 

Sesampainya
di kota mereka berduapun memasarkan hasil pertanian mereka, tanpa
disengaja cupak juga kebetulan melintas didepan kedua abangnya yang
sedang berjualan, namun Tumba dan Gantang tidak mengenal lagi sesosok
cupak, namun cupak masih mengenali keduanya.

 

“berapa
harganya kalian jual barang dagangan kalian” kata cupak kepada Tumba
dan Gantang. “Oh tidak mahal tuan, cukup dengan 5 stali saja, maka
semua barang-barang kami boleh tuan ambil” kata Tumba dan Gantang
kepada cupak.

 

“kalau begitu saya ambil semuanya” ujar cupak sambil memberikan uang 10 stali kepada tumba dan gantang.

 

“Namun
ada syaratnya, minggu depan kalian harus membawa barang-barang kalian
lebih banyak lagi dari pada barang-barang kalian hari ini” kata cupak,
dan tumba dan gantang juga menyepakati permintaan cupak.

 

*****
Minggu berikutnyapun
tiba, tumba dan gantang juga sudah sampai di

kota

,
dan cupak juga sudah menunggu mereka ditempat sebelumnya. “Hari ini
kalian tidak usah pulang dulu ke kampung, karena saya mempunyai rencana
untuk membawa kalian berdua makan malam dan menginap di rumah saya”
kata cupak kepada mereka. “wah tidak usah repot-repot tuan, sebab kami
tidak pantas berada di rumah tuan” ujar tumba dan gantang sambil
malu-malu.

 

“Wah
nggap apa-apa, saya memang sudah merencanakan demikian” kata cupak
lagi. Akhirnya tumba dan gantang sepakat untuk tidak pulang hari ini,
namun memutuskan untuk menginap dirumah Cupak.

 

****

 

Makan
malam pun telah selesai, mereka pun akhirnya bercerita setelah itu,
namun pada kenyataanya Tumba dan Gantang belum mengenai si Cupak.

 

Setelah
cerita-cerita telah dimulai, cupak pun berkata kepada kedua abangnya,
bahwa dialah cupak yang telah selamat dari ulah kedua abangnya yang
telah menghanyutkanya beberapa tahun yang lalu.

 

Tumba
dan Gantang sangat terkejut akan hal tersebut, namun cupak berkata
“jangan takut karena saya tidak akan menuntut kalian berdua, sebab
tanpa perbuatan kalian, nasib saya mungkin tidak akan pernah berubah
seperti saat sekarangi ini” Ujar Cupak.

 

Merekapun saling maaf bermaafan pada saat itu, dan cupakpun akhirnya menyuruh kedua abangnya agar tinggal di

kota

, dan membuka usaha baru sebagai penyedia jasa transportasi kuda.

 

SEKIAN

One Response to “CUPAK”

  1. Broetals Says:

    Ini kan udah pernah kamu ceritakan am aku Bro. buat lagi donk cerpennya bro, tapi yang asik ya bro …….. :(

Leave a Reply